SANGIRAN MUSEUM PURBAKALA DI SRAGEN
Keistimewaan Sangiran, berdasarkan penelitian para ahli Geologi dulu pada masa purba merupakan hamparan lautan. Akibat proses geologi dan akibat bencana alam letusan Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu, Sangiran menjadi Daratan.
AIR TERJUN GEROJOGAN SEWU
Wisata Grojogan Sewu yang terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah ini memang punya karakter tersendiri. Dengan lokasi ketinggian kira-kira 1000 meter di atas permukaan air laut, hawa sejuk sangat terasa di tempat ini.
MONUMEN PERS NASIONAL
Di dalam Monumen Pers tersimpan naskah dan dokumen kuno yang merupakan bukti-bukti sejarah perjalanan pers nasional dan perjuangan bangsa Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, kemerdekaan, hingga zaman pemerintahan saat ini.
Tampilkan postingan dengan label Lain2 karanganyar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain2 karanganyar. Tampilkan semua postingan
Minggu, 15 Mei 2011
CANDI CETHO
13.26
wong ndeso kluthuk
Diantara heningnya hamparan kebun teh lereng Gunung Lawu, terdapat sebuah peninggalan purbakala yang biasa disebut Candi Cetho/Cetha. Keberadaan kompleks Candi Cetho ini, pertama kali dilaporkan oleh Van de Vlis pada tahun 1842.
Penemuan ini menarik perhatian sejumlah ahli purbakala dunia karena unsur nilai kepurbakalaannya. Pada tahun 1928, Dinas Purbakala telah mengadakan penelitian melalui ekskavasi untuk mencari bahan-bahan rekonstruksi yang lebih lengkap.Berdasarkan penelitian Van Der Vlis maupun A.J. Bernet Kempers, kompleks Candi Cetho terdiri dari empat belas teras. Namun kenyataannya yang ada pada saat ini hanya terdiri dari tigabelas teras yang tersusun dari barat ke timur dengan pola susunan makin kebelakang makin tinggi dan dianggap paling suci. Masing-masing halaman teras dihubungkan oleh sebuah pintu dan jalan setapak yang seolah-olah membagi halaman teras menjadi dua bagian.
Bentuk seni bangunan Candi Cetho mempunyai kesamaan dengan Candi Sukuh yaitu dibangun berteras sehingga mengingatkan kita pada punden berundak masa prasejarah. Bentuk susunan bangunan semacam ini sangatlah spesifik dan tidak diketemukan pada kompleks candi lain di Jawa Tengah kecuali Candi Sukuh.
Pada kompleks Candi Cetho banyak dijumpai arca-arca yang mempunyai ciri-ciri masa prasejarah, misalnya arca digambarkan dalam bentuk sederhana, kedua tangan diletakkan di depan perut atau dada. Sikap arca semacam ini menurut para ahli mengingatkan pada patung-patung sederhana di daerah Bada, Sulawesi Tengah. Selain itu juga terdapat relief-relief yang menggambarkan adegan cerita Cuddhamala seperti yang ada di Candi Sukuh dan relief-relief binatang seperti kadal, gajah, kura-kura, belut dan ketam.
Mengenai masa pendirian Candi Cetho, dapat dihubungkan dengan keberadaan prasasti yang berangka tahun 1373 Saka, atau sama dengan 1451 Masehi. Berdasarkan prasasti tersebut, serta penggambaran figur binatang maupun relief dan arca-arca yang ada, kompleks Candi Cetho diperkirakan berasal dari sekitar abad 15 dari masa Majapahit akhir.
Bangunan utama pada kompleks Candi Cetho terletak pada halaman paling atas/ belakang. Bentuk bangunan dibuat seperti Candi Sukuh dan ini merupakan hasil pemugaran pada akhir tahun 1970-an bersama-sama dengan bangunan-bangunan pendapa dari kayu.
Lokasinya yang relatif dekat dengan objek wisata Candi Sukuh – Tawangmangu serta Danau Sarangan menyebabkan akses transportasi dan akomodasi tersedia cukup memadai. Patut diperhatikan, kondisi kendaraan harus benar-benar prima untuk ‘melahap’ medan yang cukup berat, baik itu berupa turunan, tanjakan maupun tikungan yang terkadang tajam dan sempit. Pengunjung yang menggunakan angkutan umum, bisa memulai perjalanan dari terminal bus Tirtonadi, di pusat Kota Solo.
Dari sana, pengunjung bisa menggunakan transportasi bus jurusan Karanganyar-Tawangmangu untuk kemudian berhenti di Terminal Karangpandan. Di terminal itu banyak kendaraan umum yang akan mengantar hingga Terminal Kemuning. Selanjutnya wisatawan bisa memilih berjalan kaki menembus perkebunan teh (tea walk) yang berbukit-bukit sejauh lebih kurang 2 km atau naik ojek sampai pelataran candi.
Sepanjang perjalanan yang berkelok-kelok, wisatawan akan dimanjakan dengan keindahan alam yang asri. Selain itu, bisa menikmati pula keramahan penduduk asli dengan dandanan khas berupa kupluk (penutup kepala) dan kain sarung pengusir hawa dingin, yang tersampir di leher.
Sumber: http://www.karanganyarkab.go.id/
GREBEG LAWU
13.18
wong ndeso kluthuk

Tahun baru 1 Muharam yang biasa disebut oleh masyarakat jawa sebagai Sasi Suro, yang diyakini sebagai bulan yang kurang baik untuk melaksanakan berbagai kegiatan khususnya sebuah hajatan. Namun Bagi Pemerintah kabupaten Karanganyar justru dimanfaatkan untuk menyelenggarakan sebuah pesta rakyat yang bertajuk Grebeg Lawu.

Lawu adalah nama gunung yang sebagian besar ada di Wilayah Kabupaten Karanganyar (sebagian lagi ada di Wilayah Jawa Timur). Grebeg lawu adalah sebuah rangkaian kegiatan yang menampilkan berbagai kesenian dan upacara adat dari beberapa daerah di Karanganyar dan sekitarnya, dan biasanya dilaksanakan di tempat-tempat wisata dan situs-situs religius.

Diantaranya ada Upacara Adat, Tarian Adat, Istigoshah, Mapak Tanggal, sampai bermacam lomba seperti lomba kuliner yang dilaksanakan di Pasar Wisata Tawangmangu, Lomba Cerdas , Mocopat, dan juga Upacara Gunungan dilaksanakan di Pasar Tawangmangu.
Sumber: http://www.karanganyarkab.go.id/
KOTEKAN LESUNG
13.16
wong ndeso kluthuk
Kesenian Tradisional Kotekan Lesung merupakan salah satu kesenian unggulan yang ada di Kabupaten Karanganyar karena termasuk kesenian yang unik dan khas.
Kesenian ini merupakan bagian dari tradisi kecil masyarakat petani yang sudah cukup dikenal luas penduduk pedesaan.Kesenian Kotekan Lesung merupakan rasa syukur para petani kepada Tuhan atas hasil panen yang telah di berikan Tuhan kepada mereka. Kesenian Kotekan Lesung saat ini dikembangkan di Dukuh Plesungan, Desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso. Struktur pertunjukkannya dimulai dari Panembrama, Tari Loro Blonyo sebagai sajian inti, dan Tayub Lesung.
Sumber: http://www.karanganyarkab.go.id/
RUMAH MAKAN DI KARANGANYAR
12.04
wong ndeso kluthuk
| Rumah Makan/ Warung | Alamat | Telepon |
| Jimbaran | Karangpandan | 0271 –5890333 |
| Bu Perkis | Jl Lawu Karanganyar | 0271 – 495814 |
| Tirta Rasa | Serut, Karanganyar | 0271 – |
| WM Idum | Papahan | 0271 – 495889 |
| WM Prasojo | Jl Lawu Karanganyar | 0271 – 495181 |
| Bu Medi | Jl Lawu Karanganyar | 0271 – 7023527 |
| Nita | Karangpandan | 0271 – 7084277 |
| Puncak Resto | Karangpandan | 0271 – 662881 |
| Indah | Karangpandan | 0271 – 662872 |
| Sate Kambing Pak Jarot | Karangpandan | |
| Ayam tim Mbok Yem | Karang Karangpandan | |
| Bu Ugie | Tawangmangu | 0271 – 697433 |
| Telaga Pandan | Karangpandan | |
| Mbak Ning | Ngargoyoso | 0271 – 5867545 |
| Mekar Sari | Tawangmangu | 0271 – 696136 |
| Jakarta | Tawangmangu | 0271 – 697170 |
| Bangun Trisno | Tawangmangu | 0271 – 697247 |
| Kemuning Resto | Kemuning, Ngargoyoso | |
| Amanah | Karang Karangpandan | |
| Taman Sari | Colomadu | 0271– 7685915 |
| Sapto Argo | Tawangmangu | 0271 – 697096 |
| Sun Garden | Karangpandan | |
| Mbak Dwi | Karanganyar |
Sumber: http://www.karanganyarkab.go.id/
MASAKAN KHAS KARANG ANYAR
11.38
wong ndeso kluthuk
Setiap daerah wisata tentu punya kuliner / makanan Khas. Seperti di Kabupaten tercinta Karanganyar ini pun ada yang khas, apa aja yang khas dari Karanganyar ? simak makanan khas dibawah ini:
1. Sup Buntut
1. Sup Buntut
Sup Buntut Bu Ugi makanan favorit yang menjadi khas di obyek wisata Tawangmangu. Warung sederhana yang menyajikan masakan Jawa ini tidak pernah sepi pengunjung, Bila hari Minggu tempat ini dipadati wisatawan yang ingin menjajal kelezatan sup buntut sambil menikmati udara yang segar dan melihat pemandangan disekitar.Masih di kawasan wisata Tawangmangu yang tak kalah populer yang menjadi makanan khas adalah sate kelinci . Bila berkunjung ke Kawasan wisata Tawangmangu hampir disudut banyak pejual sate kelinci yang memikul dagangannya dan menunggu pembeli di sela-sela pohon cemara. Sate kelinci rasanya sangat lezat tidak kalah dengan sate ayam, Harga satu porsinya sekitar Rp. 12.000 anda sudah menikmati lezatnya skhas ate kelinci khas tawangmangu.
3. Grubi
Camilan yang gurih ini dinamakan Grubi atau dalam bahasa Jawa Walangan. Makanan khas Tawangmangu ini terbuat dari ketela rambat dicampur dengan Gula Jawa. Melimpahkan bahan baku Grubi adalah alternatif menjadi makanan olahan yang tahan lama.4. Keripik Pisang
Makanan yang satu ini tentu sudah tidak asing lagi, Tetapi keripik pisang dari Karanganyar dijajakan lebih spesifik karena terbuat bahan baku pisang asli Tawangmangu yaitu Pisan Byok. Pisang Tawangmangu mempunyai ciri khas yaitu apabila sudah masak masih terlihat hijau pada ujung pisang.
Jenis makanan olahan yang tepat untuk oleh-oleh adalah keripik jagung. Rasanya yang gurih dan renyah membuat makanan ini sangat disukai wisatawan yang berkunjung di Karanganyar.Sumber: http://www.karanganyarkab.go.id/





